Nasihat Imam Ali; Jadilah Anak Unta

shares |

Adalah kepengecutan jika tidak mau mengakui sebuah kenyataan. Kenyataan pahit yang harus ditenggak oleh seluruh rakyat yang bangsanya katanya sudah merdeka. Kemungkinan besar aku tak segera menyadari akan hiruk pikuk dunia politik saat aku dilahirkan di dunia ini. Yang aku tahu, orang tuaku hidup sangat sederhana dan lebih parah lagi tetangga dan orang-orang di sekitarku hidup adalam keadaan yang tidak lebih baik. Aku pikir ya beginilah hidup di negeri yang kaya ini.

Aku sering melihat bapakku memakai kaos berwarna kuning bergambar pohon beringin hitam dan ada angka 2 di atasnya. Aku lihat bapakku sungguh gagah mengenakanya, apalagi kalau beliau menarik gerobak atau mengayuh sepeda onthel-nya waktu ke sawah. Luar biasa. Bapakku orang yang tak pernah mengeluh. Dan begitulah rata-rata kondisi kejiwaan orang-orang sekitarku. Dengan kaos yang sama tentunya.
Saat menjelang pemilu, warna benderaku yang merah putih kalah jumlahnya dengan bendera kuning tadi. Dan aku sangat senang. Karena bangsaku punya dua bendera. Dan aku selalu berteriak: hidup2 golkar… entahlah apa artinya. Yang pasti aku senang meneriakknaya bersama teman-temanku. Ohya, ada juga bendera warna hijau dan merah, tapi sedikit jumlahnya. Dan aku tak suka dengan yang dua ini. Alasanya Cuma satu. Karena bapakku tak pernah memakai kaos yang berwarna hijau atau merah.
Nasihat Imam Ali; Jadilah Anak Unta

Aku beranjak gede saat aku melihat presiden kebangganku mengundurkan diri. Tapi kenapa ada yang bersorak. Dasar ga tau diuntung. Udah dipimpin kok ga terima kasih malah bersorak setelah lengsernya pak presidenku.
Setelah pak Harto tidak jadi presiden lagi, kok harga nasi dan tahu goreng semakin mahal. Dulu dengan uang 25 perak, aku sudah dapat tahu goreng satu. Tapi sekarang aku harus mengeluarkan 24 kali lipat dari harga waktu aku SD dulu. Belum lagi harga-harga yang lain.
Sekarang, bapakku sudah tidak mau lagi memakai kaos itu bahkan sudah dibuang. Bapakku sudah tidak segagah dulu. Beliau sekarang sakit. Muingkin beratnya beban yang harus beliau pikul sehingga tak ada lagi optimism dalam dirinya. Puluhan bendera dan kaos bertaburan dan menjanjikan perubahan. Namun semuanya hanya tipu muslihat. Aku tahu sekarang. Memakai kaos adalah bentuk pengakuan, bentuk dukungan, bentuk loyalitas terhadap kaos itu. Kaos adalah identitas. Dan aku juga tahu kalau identitas merupakan jumlah suara. Suara yang kelak menjadi rupiah demi rupiah.
Halus tapi pasti. Dengan sebuah kaos yang harganya tidak sampai 10 ribu tapi dapat menghasilkan milyaran rupiah. Aku tak sampai hati melihat bapakku yang selama ini telah ditunggangi punggungnya yang sudah penuh dengan rumput dan kayu dari sawah. Sungguh kejam. Aku tak menyangka ada makhluk sejahat itu.
Amirul Mukminin as berkata: Dalam masa kekacauan sosial, jadilah seperti unta remaja[1] yang tak berpunggung cukup kuat untuk ditunggangi dan tidak pula bersusu untuk diperah.

[1] Labûn berarti unta yang sedang menyusui anak, dan ibnul labûn adalah anaknya yang berusia dua tahun. Dalam usia ini, unta muda itu belum layak ditunggangi dan belum punya susu untuk diperah. la dinamakan ibnul labûn karena dalam masa dua tahun itu ibunya melahirkan anak lain dan mulai mengeluarkan air susu lagi.

Related Posts

0 comments:

Poskan Komentar

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete