Non-Eksistensi Keburukan dan Eksistensi Kebaikan

shares |

Pembahasan mengenai kebaikan dan keburukan dalam teologi sebenarnya  masuk dalam sub tema pembahasan  tentang Keadilan Tuhan (al’adl al Ilahi). pembahsan keadilan Tuhan bias dikatakan sebagai implikasi dari pembahasan mengenai predistinasi (jabr) dan  kebebasan (ikhtiyar), yang merupakan  pembahsan awal dari sejarah teologi islam. artinya bahwa konsekuensi logis dari penganut predestinasi dapat diandaikan sebagai penolak keadilan tuhan sementara mazhab yang menganut ikhytiyari akan membela prinsip keadilan Tuhan. dengan bebas memilih, maka pahala dan siksa akan memiliki makna konsep dan makna sejati, namun jika tidak bebas memilih maka manusia  balasan dan siksa atas perbuatan manusia menjadi tidak bermakna.

Mu’tazilah sebagai pendukung keadilan ilahi berpendapat bahwa keadilan ilahi adalah hakikat yang mandiri, dan karena Allah Maha Adil maka semua perbuatan Allah mengikuti tolok ukur keadilan. dengan tolok ukur keadilan maka sulit bagi kita mengandaikan Allah akan menyiksa hambanya yang berbuat baik di dunia dan memberi pahala bagi para pendosa  atau pelaku keburukan. Berangkat dari inilah pembahasan kebaikan dan keburukan muncul. pertanyaan pertama adalah apakah kebaikan dan keburukan itu? apakah keduanya adalah eksistensi? bagaimana esensinya, bagaimana ia muncul dan bagaimana konsekuensi-konsekuensinya?

Begitu banyak permasalahan di dunia ini yang menguras tenaga dan pikiran manusia dan menggelisahkanya. kebodohan, kesikinan, bencana alam, perang, kecelakaan dan sebagainya. lalu diantara manusia menyalahkan Tuhan mengapa membiarkan semua ini terjadi jika dia maha adil dan maha baik. apakah tuhan tidak mampu mengatasi kejahatan dan keburukan?jika tidak mampu berarti Dia bukan tuhan, dan jika mampu mengapa tidak mengatasinya?berarti dia jahat. Atau memang tuhanlah yang menciptakan keburukan dan kejahatan. kalau bukan tuhan yang menciptakanya lalu darimana datangnya kejahatan atau keburukan?

Dari sini kita akan mencoba menelusuri keabsahan pikiran manusia dalam menilai baik dan buruk. Bisakah akal secara mandiri dapat menilai baik dan buruk sesuatu tanpa petunjuk dari selain dirinya? Mazhab teologi seperti syiah dan mu’tazilah meyakini bahwa akal mampu mecerap realitas kebaikan dan keburukan secara mandiri. karena manusia secara badihi dapat mengetahui bahwa esensi setiap perbuatan itu berbeda-beda.
Buruk atau jahat sebenarnya adalah kata sifat dan jika diimbuhi ke –an, menjadi kata benda hanya secara abstrak. suatu tindakan bisa dikatakan buruk atau jahat, suatu kejadian bias buruk, suatu makhluk bisa jahat atau buruk, sehingga menumpuk dalam pikiran kita kategori-kategori jahat atau buruk. kemudian kita membahas seakan-akan keburukan itu adalah benda tertentu, padahal sebenarnya kita sibuk dengan sebuah kategori yang kita sebut buruk atau jahat, bukan keburukan itu sendiri. disini kita mencoba mendefinisikan keburukan sebagai sesuatu yang tidak baik, tidak enak, sesuatu yang tidak kita sukai. jadi kejahatan bukanlah maujud eksternal atau factual sehingga memerlukan pencipta dan sumber tersendiri sebagaimana kaum pendapat kaum dualis.

Sebagai contohnya, yang kita sebut atau kategorikan sebagai keburukan adalah kebodohan atau al-jahl, jahl atau kebodohan memiiki definisi ‘adamul ‘ilm atau ketiadaan ilmu. dari definisi ini bisa disimpulkan bahwa sebenaranya yang eksistensi adalah ilmu bukanlah kebodohan. tanpa ilmu, maka manusia bisa dikatakan atau dikategorikan sebagai orang bodoh. sebagaimana kemiskinan adalah keburukan, karena kemiskinan adalah ketiadaan kepemilikan, jadi kepemilikan adalah eksistensi daripada kemiskinan.

Akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa esensi keburukan adalah murni non-ekstistensial. namun bukan berarti mengingkari keberadaan keburukan seperti  kebodohan, kefakiran dan lain-lain yang realitasnya bisa kita saksikan. karena yang kita maksud adalah keburukan adalah sesuatu yang  yang tidak sempurna, sesuatu yang kosong dari eksistensi.

Muthahhari memberikan contoh yang sangat bagus dalam menjelaskan non eksistensi keburukan dengan matahari dan bayang-bayang. Bayangan atau bayang-bayang akan tercipta jika sinar matahari mengenai sebuah obyek, dan abayang-bayang obyek akan muncul dibalik obyek tersebut. Bayang-bayang yang gelap karena tidak adanya cahaya matahari atau terhalangnya sinar matahari dikarenakan obyek. Andai saja tidak ada penghalang maka tidak akan pernah ada yang namanya baying-bayang. Maka bayang-bayang sejatinya tidak ada, atau sebuah ketiadaan. Sesungguhnya kejahatan bukanlah ciptaan yang mandiri namun tercipta sebagai imbas atau aksiden. Dengan kata lain kebaikan adalah kesempurnaan sementara keburukan adalah ketidaksempurnaan.

Konsekuensi-konsekuensi
Dikarenakan kebaikan adalah sesuatu yang eksisten (sejati) maka akal manusia mampu melihat baik dan buruknya sebagian tindakan-tindakan. Dan perintah dan larangan Tuhan hanya bersifat petunjuk akan kebaikan dan keburukan, maka dari itu akan sangat logis bila Tuhan dengan segala kebijaksanaan-Nya hanya memerintahkan untuk kebaikan (bertindak dan mendapatkan kebaikan) dan menghindari keburukan dan segala tindakan buruk. Kebaikan dalam tindakan yang baik terdapat dalam esensi tindakan itu dan keburukan dalam tindakan buruk, esensinya ada dalam tindakan tersebut. Sehingga rumusan seperti ini akan menjadi konsekuensi logis bahwa pelaku kebaikan tentu layak untuk dipuji karena melakukan sesuatu hal yang sempurna. Dan pelaku keburukan akan disiksa karena melakukan sesuatu yang non-eksisten (buruk dan tidak sempurna).

Segala tindakan yang menuju kesempurnaan adalah baik dan segala tindakan baik layak untuk diberi balasan yang baik pula, sesuai dengan prinsip keadilan Tuhan. Disinilah letak perdebatan yang sebenarnya dalam teologi; antara asyariah dengan mu’tazilah dan syiah. Jika asyaraiah berpendapat bahwa segala tindakan Tuhan adalah baik, termasuk memberi pahala bagi pelaku keburukan. Dan uraian diatas adalah jawaban bagi asyariah. Jika pelaku keburukan yang melakukan kesia-siaan atau melakukan hal yang menuju ketidaksempurnaan kemudian dipuji atau diberi pahala. Lalu, apa hikmah perintah dan larangan? Tuhan maha Adil dan Bijaksana, segala perbuatanya adalah bertujuan, jadi kalau seperti yang diandaikan asyariah bahwa segala perbuatan Tuhan itu baik termasuk member pahala para pendosa, maka hal ini dengan sendirinya tertolak secara akal juga tertolak oleh nash yang ada, dalam hal ini al-Quran, bahwa Allah maha Adil dan Bijaksana.

Manusia diciptakan oleh Tuhan juga memiliki tujuan dan maksud, sehingga segala tindakan manusia pun diharapkan sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. Telah disepekati bahwa manusia diciptakan adalah untuk mengabdi pada Allah. Beribadah paada allah pada giliranya adalah bertujuan untuk kembali kepada Allah yang maha sempurna.

Kita dapat menyimpulkan bahwa standar kebaikan dan keburukan suatu tindakan adalah sesuai atau tidaknya dengan tindakan tersebut dengan tujuan hakiki manusia. Jika tindakan itu sesuai dengan tujuan hakiki manusia maka perbuatan tersebut adalah baik. Sebaliknya, jika tindakan itu tidak sesuai denga tujuan hakiki manusia berarti termasuk dalam kategori perbuatan buruk.

Dengan ini, kita dapat menegaskan bahwa perbuatan baik pasti mendapat balasan baik, yaitu setidaknya mendapat kesempurnaan yang telah pelaku usahakan. Sementara perbuatan buruk akan membawa pelakunya pada hukuman tuhan, setidaknya adalah ketidaksempurnaan dan kesia-siaan. Sebgaimana diketahui bahwa ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang sangat menyiksa. Semoga bermanfaat.

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete