Rethinking Islam Mohammad Arkoun

shares |

Kajian tentang pemikiran modern Islam akan melibatkan sejumlah tokoh yang memiliki pemikiran dan ide yang beragam. Corak yang sangat beragam ini mengindikasikan betapa luasnya cakrawala ilmu Islam dilihat dari berbagai perspektif. Lahirnya berbagai macam ide dan pemiiran tentunya member dampak positi bagi perkembangan pemikiran dalam melihat dan mempraktikkan islam, baik sebagai agama maupun dilihat sebgai nilai-nilai universal. Dalam pembahasan pemikiran tokoh ini, wacana pemikiran seorang Mohammaed arkoun memiki corak khusus dibanding para pemikir yang lain, meskipun juga tidak bias dikatakan berbeda sama sekali dalam beberapa hal. Maka dari itu disini perlu kajian dan pembahasan untuk memperoleh frame atau kerangka pikiran ala Arkoun mengenai islam.

Arkoun, sebagaimana kita ketahui adalah seorang pemikir muslim post-modernisme. Pemikiran utamanya adalah Rethingking Islam, yaitu sebuah upaya mengkaji ulang secara radikal terhadap naskah-naskah keagamaan, termasuk didalamnya kitab suci Al-Quran. Arkoun melihat bahwa umat Islam kurang kritis dan hanya menerima ajaran Islam sebagai warisan tanpa mengkaji terlebih dahulu untuk bisa diterapkan di era modern saat ini. Arkoun mengajak para sarjana Muslim untuk mengkaji ulang Islam atau lebih dikenal dengan Rethingking Islam dengan menggunakan pendekatan antropologi multi disiplin. Arkoun berharap proyek agung ini bisa memberi jawaban terhadap masalah-masalah kekinian dan pelbagai kebutuhan manusia beragama dalam menjalani kehidupan. Tantangan Arkoun inilah yang akan memberi ciri khusus corak pikiran arkoun.

a.    Biografi Mohammad Arkoun.
Muhammad Arkoun dilahirkan di sebuah pedesaan Berber, Taorirt-Mimoun, Kalibia, sebelah timur Aljir, Aljazair pada tanggal 2 Januari 1928.  Pendidikan dasar Arkoun ditempuh di desa asalnya, dan kemudian melanjutkan sekolah menengah di kota pelabuhan Oran, sebuah kota utama di Aljazair bagian barat, yang jauh dari Kalibia. Kemudian, Arkoun melanjutkan studi bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljir (1950-1954), sambil mengajar bahasa Arab pada sebuah Sekolah Menengah Atas di al-Harach, yang berlokasi di daerah pinggiran ibukota Aljazair. Pada saat perang pembebasan Aljazair dari Perancis (1954-1962), Arkoun melanjukan studi tentang bahasa dan sastra Arab di Universitas Sorbonne, Paris.  Dia menyelesaikan pendidikan doktor di bidang sastra dengan menulis desertasi  mengenai Humanisme dalam Pemikiran Etis Miskawaih (w.1030 M). Pada tahun 1961, Arkoun diangkat sebagai dosen di Universitas Sorbonne, Paris, sampai tahun 1969. Pada tahun 1970-1972, ia mengajar di Universitas Lyon dan kembali ke Paris sebagai guru besar sejarah pemikiran islam. Pada tahun 1993, ia diangkat sebagai professor tamu di universitas Amsterdam, Universitas Princeton dan universitas lainya. 
Arkoun sebagai ilmuan juga sangat produktif dalam menulis.  Ia telah menulis banyak buku dan artikel di sejumlah jurnal terkemuka seperti Arabica (Leiden/Paris), Studia Islamica (Paris), Islamo-Christiana (Vatican), Diogene (Paris), Maghreb-Machreq (Paris), Ulumul Qur’an (Jakarta) dan ensiklopedi. Arkoun juga menerbitkan beberapa kumpulan makalah dan karya bersama yang dilakukan dengan cendekiawan lain. Beberapa karya Arkoun yang penting adalah, Traite d’ethique (tradition francaise avec introduction et notes du Tahdhib al-Akhlaq) (sebuah pengantar dan catatan-catatan tentang etika dari Tahdzib al- Akhlaq Miskawaih), Contribution a l’etude de l’humanisme arabe au IVe/Xe siecle: Miskawayh philosophe et historien (sumbangan terhadap pembahasan humanisme Arab abad IV H/ X M: Miskawaih sebagai filosof dan sejarahwan), La pensee arabe (pemikiran Arab), dan Ouvertures sur l’islam (catatan-catatan pengantar untuk memahami Islam). Buku-buku Arkoun yang merupakan kumpulan artikelnya di beberapa jurnal antara lain adalah Essais sur la pensee islamique (Esai-esai tentang pemikiran Islam), Lectures du Coran (Pembacaan-pembacaan Alqur’an), dan Pour une critique de la raison islamique (Demi kritik nalar islami). Buku-bukunya yang lain adalah Aspects de la pensee musulmane calssique (Aspek-aspek pemikiran Islam klasik), Deux Epitres de Miskawayh (Dua surat Miskawaih), Discours coranique et pensee scientifique (Wacana-wacana al-Qur’an dan pemikiran ilmiah), L’islam, hier, demain (Islam, kemarin dan esok, karya bersama Louis Gardet), dan L’islam, religion et societe (Islam, agama dan masyarakat). Selain itu, masih banyak lagi beberapa karya lainnya yang belum diterbitkan, di samping beberapa artikel penting, seperti pada Encyclopaedia Universalis dalam entri “Islam, les expression de l’islam”, “Rethinking Islam Today” dalam buku Liberal Islam: A Source Book, “History as an Ideology of Legitimation: A Comparative Approach in Islamic and Eurepan Contexts” dalam buku Islam, Modernism and the West dan sebagainya.
Hampir seluruh karya Arkoun ditulis dalam bahasa Perancis. Beberapa karya terjemahan yang penting antara lain adalah al-Fikr al-Islami; Qira’ah ‘Ilmiyyah, al-Fikr al-Islami, Naqd wa Ijtihad, al-Islam; Asalah wa Mumarasah (bahasa Arab), Rethinking Islam, Common Questions Uncommon Answers, Arab Thought (bahasa Inggris), NalarIslami dan Nalar Modern: Pelbagai Tantangan dan Jalan Baru, Islam: Kemarin dan Esok, Berbagai Pembacaan Al-Qur’an, dan Rethinking Islam (bahasa Indonesia).
Tampak dalam karya-karya Arkoun tersebut banyak diilhami oleh ilmuwan ilmuwan Perancis seperti Paul Ricoeur, Michel Fouchault, Jack Derrida, Roland Barthes, dan Piere Bourdieu. Di samping itu, juga oleh ahli bahasa Swiss, Ferdinand de Saussure, antropolog Inggris, Jack Goody, ahli sastra Kanada, Northtrop Frye, dan sebagainya. Arkoun memang berusaha mengawinkan kritisisme dengan pandangan hermeunetik kontemporer dalam memahami Islam. Dengan begitu, Arkoun berharap akan muncul suatu pemikiran yang bisa memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum Muslim akhir-akhir ini dan dapat membebaskannya dari belenggu yang mereka buat sendiri.


b.    Pemikiran Arkoun
Pemikiran Arkoun dapat dikatakan agak rumit, karena meliputi berbagai perpaduan dari perkembangan wacana ilmu yang digandrungi di sana, seperti Derrida (Dekonstruksi-grammatologi), Lacan (psikologi), Barthes (semiologi), Foucault (epistemologi), Poststrukturalisme ala Saussure (linguistik), Levi Strauss (antropologi), Politik (Voltaire), Eksistensialisme (Nietzche dan Sartre), Rasionalisme (Descartes), juga ilmu-ilmu arkeologi-sosial-sejarah Mazhab Analle Prancis.
Hal ini dapat disaksikan dalam istilah-istilah yang digunakan Arkoun, yaitu  konsep-konsep kaum poststrukturalisme untuk kemudian diterapkannya ke dalam wilayah kajian Islam. Konsep-konsep seperti korpus, epistema, wacana, dekontruksi, mitos, logosentrisme, yang tak terpikir dan dipikirkan, parole, aktant dan lain-lain, adalah bukti bahwa Arkoun memang dimatangkan dalam kancah pergulatannya dengan post-strukturalisme.
Pembacaan Arkoun yang paling menonjol dalam mendekati turats Islam adalah sebagai berikut: historis dan antropologis (humainora), linguistis, semiotika dan sastra, tafsir logiko-leksikografis dan tafsir-tafsir ideologi-teologis keimanan serta segenap perangkat metodologi yang sedang populer. Namun Arkoun tidak pernah konsisten pada satu metode tertentu, melainkan dengan pendekatan secara inter disipliner (tadakhûl mutaadidah al-ikhtishasât). Artinya ia menggunakan prinsip eklektik ketimbang selektif pada suatu mazhab/metodologis. Karenanya ia menganut humanisme strukturalis Levi Staruss, di mana menekankan pentingnya perilaku serta tindak tanduk individual dan sosial sebagai landasan bagi terbukanya akses makna kebenaran dan moralitas religius yang dianut dan dicita-citakannya: kebebasan nalar intelektual.
Disaat yang sama, Arkoun juga mengkapanyekan  metode historis dengan mereka ulang sejarah dengan membuang segala bentuk doktrin dan ke-ortodoks-an yang dianggapnya sebagai hasil dari akibat akulturasi islam dengan budaya local. Hal ini meresahkan arkoun dan menjadikanya harus membersihkan noda sejarah dari berbagai kontaminasi mitos maupun mistis.



c.    Kritik Arkoun
Kata kritik yang dipakai Arkoun tidak bias dilepaskan dari preseden-preseden filsafat, Arkoun juga dikenal sebagai Kantian dan rasionalis karena hal ini. Arkoun adalah pengkritik tradisi kemapanan, tradisi objektivisme dan positivisme yang menurutnya tidak hanya merasuki ilmu pengetahuan Islam, namun juga Barat dan orientalis Barat. Arkoun juga tidak segan untuk mengkritik hal yang paling sensitive dalam dunia islam, yaitu pembacaan ulang terhadap  Al-Qur’an, sunnah dan Ushul. Menurut arkoun al-Quran telah mengalami sejumlah tafsir dan intepretasi dari masa ke masa, sehingga diibaratkan seperti lapisan-lapisan geologis bumi. Sedemikian tebalnya lapisan-lapisan ini membuat arkoun ingin menggali atau bahkan menyingkirkan semua jenis intepretasi untuk mendapatkan kemurnian ajaran islam. 
Arkoun berargumen bahwa kesalahan para fuqaha dan ulama terletak pada keyakinan mereka bahwa pengetahuan bahasa membuat mereka mampu memahami naskah, sedangkan mereka sendiri mengabaikan kebenaran yang lebih hakiki mengenai kesejarahan dari bahasa itu sendiri. Menurutnya, nalar Islam yang dibangun oleh para alim ulama adalah atas interpretasi doktriner dan kebutuhan politis untuk mengontrol penafsiran atas wahyu dan maknanya. Hal inilah yang menurutnya menyebabkan kemunduran filsafat Islam dan terbangunnya cloture logocentrique yang dengannya pemahaman alternatif selain dari wahyu menjadi kemustahilan.
Arkoun berpendapat bahwa nalar bersifat inklusif dan tidak tunggal –dan yang dimaksud bukanlah nalar aktif-potensial atau bakat intelektual, melainkan nalar bentukan dan didikan yang berisi doktrin-doktrin pengetahuan. Nalar islam bersifat historik, multi kultural dan (bahkan) sejarah itu sendiri.  Nalar Islam merupakan perangkat yang menghasilkan produk-produk pengetahuan Islam dalam bentangan panjang sejarah.
Sehingga muncul beragam nalar islam, yaitu nalar Taswauf, nalar Sunni, nalar Muktazilah, nalar Syi’ah, dan seterusnya hingga kini. Itulah nalar-nalar Islam, dengan segenap identitas dan ciri khasnya masing-masing, karena pada dasarnya merujuk pada pokok dan otoritas yang sama: al-Qur’an dan Hadits. Namun, yang perlu dijadikan entry point, nalar tersebut mempunyai titik tolak dalam sejumlah kognitas dasar dan kepentingan- kepentingan tertentu yang membentuknya. Secara historik, nalar-nalar tersebut kerap bersaing, berseteru, dan bahkan bermusuhan yang berujung pada kematian/kehancuran. Hal yang paling mendasar, bahwa dalam kemajemukan nalar tersebut, sesungguhnya memiliki titik konvergensi dan persenyawaan yang oleh Arkoun, disederhanakan sebagai terma nalar Islam. Singkatnya, ia sengaja membredel nalar di atas menuju “ruang kematian” dengan cara mendekonstruksinya menjadi nalar Tunggal (Binyah al-Muwahadah), yakni: nalar Islam. 

Tujuan kritik Arkoun sebenarnya tidak bersifat historis melainkan epistemologis. Historitas dan antropologi tampaknya hanya menjadi alat untuk mencapai tujuannya: menuju kritik sistematika nalar Islam. Di mana analisa sistematik ini diawali dengan penyejajaran nalar Islam dengan imajinasi sosial kaum muslimin. Nalar Islam diidentikan dengan kekakuan penafsiran, kekuatan politik, dan imajinasi sosial.

PENUTUP
Pada akhirnya, Arkoun sangat menginginkan kebebasan manusia dari berbagai belenggu dunia mitos yang selama ini diwarisi dari visi masa lalu. Visi masa lalu ini dianggap sedemikian eksklusif dengan memancangkan kebenaran sejati pada umat manusia. Arkoun berharap upayanya dapat membuka mata umat islam untuk menjadi diri mereka sendiri, melalui telaah dan kritis atas akal islam, skripturalisme ortodoks dan tekstualitas al-Quran.
Melalui kritik epistemology, Arkoun ingin mengembalikan wacana islam sebagai agama yang memuat nilai-nilai normatif, spiritualitas dan moralitas keberagaman Islam yang terbuka, mendasar, sekaligus fungsional, tanpa harus di bebani muatan ideologi politik. Proyek yang sangat besar ini tentu menuai pro kontra dari para ulama dan pemikir Muslim. Dengan menggunakan kritik akal islam sebagai jargon-nya Arkoun telah secara sengaja menyentuh wilayah paling sensitive dalam bangunan epistemology Islam. Dengan dalih pembebasan belenggu doktrinitas beragama, Arkoun telah memutus mata rantai ilmu pengetahuan Islam sejak meninggalnya Rasulullah saw. Sangat disayangkan, Arkoun hanya memberi tahu cara membongkar namun tidak menawarkan cara membangun.
DAFTAR PUSTAKA
1.    Dr. Mohammed arkoun, Pemikiran arab, Pustaka Pelajar: Yogyakarta. 1996 cet. I
2.    Mohammed Arkoun. Nalar islami dan nalar modern:berbagai tantangan dan jalan baru.INIS: Jakarta. 1994. Cet I
3.    Listiyono Santoso dkk, Epistimologi Kiri, ar-Ruz Media: Yogyakarta. 2007. Cet V
4.    Sulhani Hermawan, M.Ag, Jurnal DINIKA Vol. 3 No. 1, January 2004

Related Posts

0 comments:

Poskan Komentar

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete