Ini Kisah Pemimpin Tertinggi Iran tentang Bung Karno

shares |

Ir Soekarno (Wikipedi.org)
Menyebut nama Sukarno tentu membuat sebagian besar atau mungkin seluruh rakyat Indonesia menjadi bangga dan percaya diri. Entah punya sihir apa bapak Proklamator ini. Sungguh besar pengaruhnya sampai detik ini. Orang orang bahkan sangat fanatik terhadapnya. Memang menurutku sampai saat ini belum ada yang dapat menggantikan posisinya, baik pengaruhnya di Indonesia maupun di Dunia. Reputasinya tidak diragukan lagi, pencetus Gerakan Non Blok ini sangat disegani kawan maupun lawan.
Banyak orang dan juga golongan menggunakan namanya  untuk kepentingan tertentu. dan memang berhasil. It works, untuk menarik simpati dan sebagainya. Aku bukanya ga suka dengan hal itu, tapi inilah yang membuatku heran dan berfikir, betapa satu orang bisa membuat banyak orang menjadi terikat dan berkumpul, bersatu dan berjalan bersama. Luar biasa.
Suatu hari aku ketemu dengan orang Malaysia, yang aku juga lupa kapan dan dimananya. Ia bercerita bahwa memang negaranya (Malaysia) sekarang lebih maju dibandingkan dengan Indonesia, namun Malaysia tidak memiliki tokoh seperti Soekarno. Sungguh beruntunglah kalian yang memiliki tokoh seperti Soekarno. 
Dari sini aku menyimpulkan bahwa wajar jika setiap elemen bangsa merasa memiliki sosok bernama Soekarno, bukan hanya karena Presiden dan Proklamator, tapi memang beliau orang hebat dan karismatik.
Kekagumanku ini bertambah lagi dengan satu cerita yang dikisahkan sendiri oleh seorang pemimpin tertinggi di Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Ia juga lebih dikenal dengan sebutan 'Rahbar', katanya posisinya lebih tinggi dari Presiden. Ia menuturkan sebuah kisah yang ia beri judul "Jasa Ahmad Sukarno". Lihatlah cara ia menamakan Bung Karno. Setahuku, atau mungkin aku baru tau, bahwa nama Bung Karno itu adalah Ir. Soekarno saja, kok ini ada tambahan 'Ahmad'. Ini mungkin wujud penghormatan Rahbar terhadap Bung Karno. Nah sekarang mari kita simak kisah Rahbar tentang Sukarno;

Jasa Ahmad Sukarno
Negara-negara Gerakan Non-blok (GNB) pernah dipandang sebagai kutub kekuatan yang disegani dan berperan aktif di kancah internasional. Sayangnya, kini reputasi GNB semakin memudar. Pencetus gerakan ini tiga atau empat orang saja dan yang paling berjasa adalah Presiden Republik Indonesia yang pertama, Ahmad Soekarno.
Ada baiknya jika saya ceritakan kenangan saya di sini. Tahun 1353 Hijri Syamsi (1974 Masehi), saya ditempatkan di sel bersama satu atau dua orang lainnya. Sel tersebut hanya seluas 2,20 meter dan lebar 1,80 meter. Suatu malam, di saat saya mengerjakan shalat Maghrib, sel kami ketambahan satu penghuni baru. Tahanan tersebut adalah seorang komunis yang ekstrim. Ketika melihat saya sedang menunaikan shalat, ia memahami bahwa saya seorang dari kelompok agamis. Sejak itu, ia menjauh dari saya. Meski berulangkali saya mencoba untuk mendekatinya, namun ia selalu menghindar.
Ketika saya memahami sikapnya tersebut, saya menyampaikan satu ungkapan yang membuatnya berubah total. Saya katakan, Ahmad Soekarno di Konferensi Bandung, Indonesia, mengatakan, "Yang mengumpulkan kita di tempat ini bukanlah kesamaan ideologi ataupun ras, namun yang mengumpulkan kita di tempat ini adalah persamaan kebutuhan yang kita miliki."
Kemudian saya katakan bahwa antara saya dan Anda saat ini ada kesamaan kebutuhan. Kita sama-sama berada dalam satu sel, penjaga di luar sel mengamati gerak-gerik kita. Algojo menunggu Anda dan saya untuk disiksa dan diinterogasi. Saya menambahkan, ideologi kita berbeda, namun kebutuhan kita sama. Saya menegaskan, di saat persamaan kebutuhan di pentas dunia mempunyai dampak yang besar, maka di penjara sekecil ini pengaruhnya harus lebih besar. Setelah itu, kami dapat menjalin persahabatan. Sebenarnya Ahmad Soekarnolah yang berjasa menjadikan kami sahabat. Saat ini demikian. Negara-negara Islam memiliki kebutuhan yang sama. Mereka menjadi sasaran dan keserakahan musuh, padahal mereka memiliki fasilitas dan saran yang sangat besar.
Yang paling menarik dari kisah di atas adalah pelajaran moral yang bisa kita ambil, bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadikan orang saling bermusuhan asal memiliki persamaan kebutuhan. Perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk saling bermusuhan. Akhiri segala permusuhan dengan menyamakan kebutuhan. Semoga rakyat Indonesia kembali bersatu dan tidak mudah di adu domba oleh pihak lain yang memiliki kepentingan dan kebutuhan yang berbeda dengan rakyat secara keseluruhan. Aku yakin bahwa seluruh rakyat menginginkan kedamaian, kerukunan, toleransi dan kesejahteraan. Merdeka! Hidup Bung Karno!!

Related Posts

2 comments:

  1. Amien yaallah yarobalatamin.. saya sangat SETUJU dengan semua yg di sampeikan di atas.

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete