Manfaat Filsafat di Zaman Modern

shares |

Kali ini aku mau nulis sebuah refleksi yang aku dapat hari ini. Dari judulnya kelihatan serius ya, padahal tidak, atau setidaknya tidak seserius itu. Ini hanya uneg-uneg yang mengganjal di fikiranku selama aku dalam perjalanan ke kantor.

Setiap hari aku mengaspal jalan dari depok sampai Pasar Minggu. Perjalanan menghabiskan waktu satu jam, artinya kalo PP membutuhkan waktu 2 jam, kadang lebih kalau macet terlalu parah.

 Selama perjalanan dengan motor, otak ternyata tidak hanya fokus pada jalan. Maklum, sudah sangat hafal jalan, bahkan posisi lobang hingga polisi tidur pun sudah diluar kepala. Seperti auto-ride. Dalam perjalanan satu jam itu akalku tak henti-hentinya berkelana, menjelajah segala hal, tapi bukan melamun ya, beda. Aku tetap sadar dan fokus dengan jalan. Aku cuma merasa sayang kalo waktu yang berharga ini aku lewatkan hanya untuk melihat jalan dan polisi tidur. Akalku mengajak berfikir dan merenungkan segala hal.

Diantara yang paling menggelitik dalam fikiranku adalah hiruk pikuknya manusia dalam menjalani hidup di kota Jakarta ini. Semua terlihat sibuk. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merubah gaya hidup, budaya dan peradaban manusia modern. Berbagai kemudahan yang tercipta akibat majunya teknologi dan kebudayaan, ternyata disadari atau tidak telah membuka peluang kerumitan dan masalah-masalah baru. Masalah-masalah baru yang ternyata tidak bisa diatasi dengan cara yang instan sebagaimana pemicunya.

Di sisi lain manusia mengalami kejenuhan, keletihan jiwa dan keterasingan. Seperti rasa bosan yang diderita oleh karyawan, kegelisahan buruh yang bakal dipecat, istri yang takut suaminya kawin lagi dan jutaan masalah yang tidak bisa diobati dengan pil warung, baik yang untuk orang pintar maupun orang bejo.

Keletihan jiwa atau kekeringan spiritual ini ternyata sering tak mempan dengan mengunjungi psikiater atau psikolog, bahkan pemuka agama sekalipun. Siraman ruhani sering hanya menambah masalah; kalo bukan ceramah lucu, pasti ceramah menghakimi kelompok lain. Padahal yang dibutuhkan umat bukan itu.

Masih dalam renunganku di atas motor, aku mengandaikan sebuah solusi alternatif, yaitu filsafat. Mengapa filsafat? Aku yakin bahwa setiap masalah itu sebenarnya adalah sebuah ke-konstan-an. Ia akan selalu ada di setiap keadaan, bagaimanapun majunya peradaban. Dari kekonstanan itu, para arif ( baca: filosof ) telah memformulasikannya dengan kalimat -kalimat bijak agar digunakan sebagai pedoman hidup manusia.

Nah menurutku, orang yang sedang dalam masalah tidak cukup diberi nasihat keagamaan dan penyelidikan psikologis. Yang dibutuhkan manusia seperti ini menurutku adalah dialog. Dialog secara logis dan mendalam sehingga dengan itu  ia bisa mengurai setiap masalah dengan cara yang runut, mendasar dan kritis.
Cara dialogis filosofis ini tentu bukan pekerjaan semalam, ia membutuhkan waktu dan keseriusan berfikir. Memang akal bukan segalanya, namun dengan berfikir logis akan sangat membantu menjernihkan pemikiran. Keputusan-keputusan yang diambil secara tergesa dan tidak berpola akan berakibat negatif, sementara dengan akal jernih setidaknya kita bisa memilih dan memilah keputusan yang paling layak diambil.

Mungkin di sinilah posisi filsafat bisa dimanfaatkan. Aku kira sangat strategis dan urgen. Jika ada konsultan filosofis, ini pasti jadi pekerjaan paling bergengsi abad ini, sebagaimana abad dimana sokrates berujar, "hidup yang tidak dikaji, tidak layak untuk dijalani".

Related Posts

3 comments:

  1. Ternyata filsafat bukan hanya konsep aja ya, bisa diaplikasikan juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat bisa bun,, malah sangat aplikatif loh

      Hapus
  2. Nah ini aku baru tau,,,

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete