Pesan Film Mahabharata untuk Hari Pendidikan Nasional

shares |

Setiap hari, aku punya rutinitas baru yang menyenangkan, nonton tv. Bukan acara biasa, tapi acara yang menurutku dan istriku adalah film pendidikan. Sejauh ini sih tidak ada adegan yang buruk seperti kekerasan fisik maupun pengumbaran sexualitas. Setidaknya selama ini. Ini film yang sayang dilewatkan.
Jika ada hari yang terlewat, maka hari minggu malam, aku harus jadwalkan waktu untuk mengikuti versi maratonnya.

Pesan Film Mahabharata untuk Hari Pendidikan Nasional


Disini aku hanya ingin sedikit mengulas beberapa pelajaran yang tersirat maupun tersurat dari film Mahabaratha ini. Kisah Mahabharata memang bukan kisah baru, konon kisah ini terjadi ribuan tahun sebelum Masehi, lebih tua dari zamannya Plato. Meskipun kisah yang kuno, namun kisah ini tetap saja diceritakan dan diceritakan terus menerus dari generasi ke generasi. Ini yang membuatku percaya bahwa kisah ini bukanlah dongeng semata, namun sebuah kejadian yang nyata, tentu ada sedikit bumbu-bumbu biar terasa sedap.

Dalam kisah Mahabharata terdapat banyak pelajaran yang sangat berharga, diantaranya adalah pentingnya pendidikan karakter. Ya, pendidikan karakter bukanlah hal baru, ini sudah sangat lama, bahkan menurutku inilah pendidikan yang sebenarnya. Karena pendidikan yang hanya melatih kecerdasan akal dan tidak menyentuh pendidikan hati, maka bukanlah pendidikan.

Ingatkah kamu saat Pandu mendidik kelima putra-putranya, ia memberikan pelajaran dengan penuh cinta dan menjelaskan ilmu pengetahuan dengan penuh perhatian. Anak anak Pandu atau Pandawa mendapatkan pendidikan dari alam dan kesederhanaan. Mereka ditempa dengan kesederhanaan, kesabaran, kebebasan berekspresi dan tentu dengan perhatian dan cinta kasih sang guru, yang saat itu adalah orang tuanya sendiri. Mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang percaya diri.

Sementara anak-anak Destrarastra dididik dengan kemewahan dan kesenangan. Destrarartra sesumbar bahwa anak-anaknya adalah para pangeran, pangeran adalah emas murni yang tidak perlu dimurnikan, namun hanya perlu dibentuk. Artinya, Ia  meyakini bahwa Duryudana dan adik-adiknya terlahir telah memiliki kepribadian atau karakter yang sudah bagus bahkan digambarkan sebagai emas murni, sehingga tidak perlu lagi dimurnikan dan hanya perlu dibentuk mau jadi seperti apa anak-anak itu.

Kondisi seperti itu juga terjadi dinegeri puluhan ribu tahun setelah peperangan Bharatayuda, Hastinapura yang lain, Indonesia. Di Indonesia, kondisi pendidikan nasional juga tidak bisa dibilang bagus, carut marut dunia pendidikan di Indonesia masih menjadi PR bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak melulu urusan guru, apalagi hanya seorang Menteri. Ini tanggung jawab semuanya, justeru yang paling penting adalah peran orang tua dan pendidikan di rumah.

Di hari hari pendidikan nasional seperti ini, pasti akan ada renungan-renungan tentang kondisi pendidikan yang ada di negeri ini. Namun, pelajaran dari kisah Mahabaratha perlu untuk kita renungkan juga. Marilah belajar, ajakan ini bukan hanya untuk murid, tapi juga untuk orang tua dan para pembuat kebijakan di negeri ini. Belajar apa? belajar apa saja, semua disiplin ilmu adalah penting, namun yang tidak kalah penting adalah belajar mengenali diri sendiri, membentuk kepribadian karena itu akan mengantarkan manusia ke jalan yang benar, yaitu Keimanan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional

Related Posts

4 comments:

  1. Wah saya malah jarang banget nonton tv. Biasanya kalau anak pengen nonton film atau kalau ada bola aja. Hehehe.

    Nanti malam mau cek ah, pukul 20.30 ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. weh, mas gie mampir ke rumah ga bilang bilang, mau diseduhin teh apa kopi mas?
      Maksih mas,, sekali kali nonton film mas,, seru nih

      Hapus
  2. kebetulan saya jarang nonton tv di jam2 segitu kak..cuma pernah sekali jam segitu lagi di rumah dan ponakan tiba2 nyetel film Mahabarata di salah satu saluran tv. Bagus sih, ya itung2 agar anak2 jaman sekarang kenal juga dgn cerita itu, kebetulan waktu kecil saya juga nonton film itu, hehehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya,, bagus kok,, daripada acara yang hanya mengajak tertawa,, berlebihan tertawa kan mengeraskan hati, menutup ilmu masuk.. :)

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete