Jurus Kambing Terbang dalam Berdebat

shares |

Kisah ini sering sekali diceritakan oleh dosen filsafat saya waktu di S2. Kisah ini lucu, namun penuh hikmah.
Ada dua musafir yang menyusuri jalan hendak mencari tempat peristirahatan. Hari sudah mulai gelap. Matahari seakan mengucap pamit dengan mega merahnya. Lama kelamaan mega merah pun lenyap. Sambil mempercepat langkah kakinya, kedua musafir tersebut tak henti hentinya berdebat. Memang begitulah kebiasaan mereka ketika dalam perjalanan. Katanya dapat menghilanglan jenuh. Yang lebih aneh lagi adalah keyakinan mereka kalau jalan dengan berdebat akan mempercepat tiba di tujuan.
Sampai pada satu kondisi disaat mereka dikejutkan oleh seonggok benda kehitaman agak jauh di depan mereka. Maklum, hari sudah mulai gelap. Iseng, mereka mulai tebak tebakan. Si A berpendapat, "aku yakin, itu kambing". Si B tidak mau kalah, "ga mungkin itu kambing, itu pasti gagak."
Perdebatan sengit dimulai.
.....

.....
Ok kata si B, " kita lihat aja lebih dekat, jika benda itu bisa terbang berarti itu gagak."
"Sudahlah, itu pasti kambing", sanggah si A.
Saat mereka mulai semakin dekat, tiba tiba saja benda hitam ituterbang sementata merwka bersua belum sempat melihat secara jelas.
Si B merasa diatas angin dan mengejek, " tuh lihat, apa gua bilang, itu burung gagak."
Anehnya si A masih bersikukuh, "meskipun terbang, itu tetaplah kambing".
Pokoknya itu kambing walaupun terbang.
Nah, dari kisah inilah mungkin munculnya argumentasi “pokoknya”. Meskipun sudah diberitahu dalil aqli maupun naqli, tapi kalo sudah pake jurus kambing terbang,  kebenaran tidak akan pernah diterimanya.
Sekarang ini banyak sekali yang mengaku paling benar dengan jurus kambing terbang. Sungguh ini adalah pelecehan terhadap akal dan hati nurani. Bagaimana mungkin ia atau mereka bersikukuh menyesatkan dan menyalahkan orang lain meskipun sudah diberikan penjelasan yang sangat logis secara akal maupun teologis melalui naql.
Kita semua berlindung kepada Allah dari jurus kambing terbang yang mebabi buta. Terimalah kebenaran bahwa itu adalah gagak, bukan kambing. Mana mungkin kambing bisa terbang secara akal, bahkan secara inderawi yang dilihatnya adalah seekor burung gagak. Namun karena hati yang penuh ego, yang sudah keluar dari mulutnya, ia enggan menariknya. Semestinya, demi menjunjung tinggi kebenaran, maka rasa ego dan malu haruslah dibuang jauh jauh.
Semoga tulisan pendek ini bermanfaat bagi kita yang saat ini sedang berdiskusi, berargumen ataupun berdebat. Gunakan mata hati untuk melihat kebenaran. Ingat, Allah bersemayam di hati orang-orang yang beriman.

Related Posts

2 comments:

  1. ceritanya menarik...
    kata pokoknya memang kadang suka terlontar dari mulut kita ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disaat mentok tapi udah kalah, keluarlah 'pokoknya' ..😁

      Hapus

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete