Mengenal Pak Ogah Dari Perspektif yang Lain

shares |

Halo kawan, apa kesanmu saat mendengar istilah 'Pak Ogah'? Mungkin kesan yang muncul adalah tukang parkir, perempatan jalan, pengangguran dan seterusnya. Tapi kejadian semalam membuatku berfikir bahwa Pak Ogah bukanlah seorang pengangguran apalagi pemalas.

Apa yang terjadi semalam juga sering terjadi di lokasi lain tentunya. Apa itu? Ya, semalam sewaktu pulang dari tempat kerjaku di daerah Pejaten, Jakarta Selatan, kondisi malam itu agak gerimis, petir beberapa kali menggelegar, seakan langit mau runtuh. Kupikir sebentar lagi pasti hujan deras. Para pengendara motor dan mobil berlomba agar cepat sampai rumah. Keluarga di rumah pasti sudah menunggu dengan sambutan manis dan secangkir teh atau kopi. Namun, tiba-tiba semua kendaraan yang di depanku berhenti. "Wah, macet nih", batinku.

Meski bisa berjalan dengan pelan, tetap saja membuat para pengendara kendaraan tidak sabar dan mulai membunyikan klakson mereka masing-masing. Berisik.

Saat mendekati sebuah perempatan yang aku duga sumber kemacetan, aku melihat seorang yang bapak-bapak yang dengan susah payah mendorong sebuah mobil yang mogok. Oh ini rupanya masalahnya. Bapak itu adalah yang biasa disebut sebagai pak Ogah, yang biasa mengatur jalan, saat Pak Polisi absen dari lokasi. Pak Ogah tadi dengan sabar dan terus mendorong mobil mogok tadi sampai mobil itu hidup kembali. Setelah itu ia melanjutkan tugasnya mengatur lalu lintas yang sudah ruwet. Pemilik mobil yang tadi mogok mengeluarkan tangan dari mobilnya, mendandakan ucapan terimakasih. Mungkin kalo kondisi tidak macet dan nanggung seperti semalam pasti akan berhenti dulu dan memberikan selembar sepuluh ribuan untuk Pak Ogah yang menolongnya tadi. Dan ajaibnya, Pak Ogah merasa biasa saja seakan melakukan hal yang wajar. Ini poin yang aku dapat.
Bersikap biasa biasa saja saat melakukan kebaikan menurutku adalah sebuah prestasi jiwa. Ini adalah sebuah karakter dari kebiasaan melakukan kebaikan, yang oleh Imam Ghazali disebutnya sebagai akhlak, karakter jiwa yang terpatri dilakukan tanpa melakukan pemikiran terlebih dahulu, saking biasanya. Aku mulai berkaca, betapa aku masih sering pamrih dalam melakukan kebaikan. Biar dapat pahala lah, biar disenangi orang lah, biar dipuji-puji , biar dianggap orang baik dan seterusnya. Kita berbuat baik dengan pamrih, kata Imam Ali bin Abi Thalib ibarat seorang pedagang. Tidak buruk, namun yang lebih baik adalah ketika kita berbuat baik adalah memang itulah yang semestinya kita lakukan, bukan karena ini dan itu.

Satu lagi catatanku tentang Pak Ogah, mereka sama sekali tidak mencerminkan orang orang yang malas, jutru mereka rajin mengais rejeki halal. Mungkin karena itulah satu-satunya pekerjaan yang bisa ia lakukan. Maksudku bukan berati selain itu tidak bisa, melainkan kesempatan atau lapangan kerja yang tersedia tidak ada sehingga memilih jalan sebagai Pak Ogah. Aku yakin mereka jika ditawari pekerjaan yang lebih baik, pasti mereka mau. Sayangnya lapangan kerja tidak banyak, sementara argo hidup terus berjalan. Makan itu tidak bisa di qodho kan? Manusia bukan ular yang sekali makan banyak kemudian sebulan ga makan. Ini logis dan sangat manusiawi.

Pak Ogah tidak pernah meminta tarif dan tidak pernah di gaji oleh negara. Ya iyalah emang mengatur lalu lintas itu bukan tugas pak Ogah, tapi tugas pak Polisi. Namun, saat pak Polisi lagi istirahat dan berteduh sambil ngopi, maka pak Ogah menggantikan tugasnya, tentu pak polisi tidak menyisihkan sebagian gajinya buat pak ogah tadi. Hanya para dermawan jalanan yang memberikannya tip untuk jasanya mengatur jalan disetiap persimpangan atau perempatan.

Pro dan kontra keberadaan Pak Ogah, tentu ada saja, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Bagaimana menurutmu kawan? Punya pengalaman yang lain?

Related Posts

8 comments:

  1. Wah aku maah baru tahu lho ttg pak ogah ini, tak kira yg di TV dulu itu yg suka bilang cepek :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,,, pak ogah unyil itu mbak,,,
      pak ogah ini juga ngumpulin cepek di jalanan :)

      Hapus
  2. kok tidak ada tulisannya/isinya postingan ini?

    BalasHapus
  3. Kadang kalo ga ada pa ogah repot gan terutama diperempatan atau pertigaan yg ga ada lampu merahnya, rata2 orang ga sabaran dan ga mau kasih jalan ujung2nya macet kalo ga pada adu mulut deh

    BalasHapus

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete