Filosofi Kopi Dingin dan Istri yang Sabar

shares |

Judul Filosofi Kopi hanya buat pemanis saja, biar terlihat kekinian dan intektual. Selebihnya ini hanya curhatan suami hebat yang baru belajar update status facebook. Tulisan ini hanya sekedar luapa emosi jiwa tentang pentingnya segera menyeruput kopi yang masih panas. Karena kalau sudah dingin agak susah kita cari-cari makna dan filosofinya kecuali anda baca tulisan ini sampai selesai dan setelah itu komentar di kolom yang sudah disediakan. Gunakan akun Google untuk komentar. aku yakin email anda juga gmail.

Filosofi Kopi Dingin dan Istri yang Sabar

Sudah dua kali.
Pertama, kopi sudah dingin karena aku dibuat lupa oleh adik adik ipar. Mereka sengaja menjeratku dengan jebakan yang bernama eskrim. Memang tak sejajar membandingkan kan kopi dan eskrim. Tapi akibat ulah mereka, kopi Liong panas kesukaanku jadi dingin, sedingin istri saat suaminya pulang terlalu malam. Akhirnya kopi sudah tak menggoda lagi untuk diseruput. Aku sangat marah dan mengutuki diri sendiri. Betapa mudahnya aku tergoda oleh sekedar eskrim, sementara kopi panas sudah dibuatkan oleh istri disela sela sibuknya dia ngurus bayi berumur 10 hari. Sungguh kejahatan apa yang lebih buruk selain tindakan gegabahku itu? 

KEDUA, ini lebih tak layak dimaafkan lagi. Tadi pagi setelah solat subuh yang sangat berat. Sungguh, solat subuh di bulan selain bulan puasa memang uji nyali dan uji keimanan. Semakin siang solat subuhnya semakin tipis pula tingkat keimanan seseorang. Tapi bulan Syawal masih menyisakan semangat ibadah, hingga aku bisa solat subuh 15 menit setelah azan. Sangat Soleh, bukan...


Tapi tidak berhenti disitu, kesolehan tadi tidak seberapa kuat dg kekuwatan Sy menahan rasa kantuk. Aku mendengar istriku telah selesai beresin si Hasan kecil yang baru selesai ee. Dan mulai memangku serta menyusuinya. Semalam sudah berapa kali istriku bangun, entah karena ompol bayi, atau menyusui. Dan aku tak mampu berbuat apa selain bobo. Selesai solat subuh dan memanjatkan doa seadanya, istriku menawarkan secangkir kopi panas. Dan aku menyambutnya hanya dengan 'iya'.
Kopi diseduh, itulah terakhir yang aku dengar.. 


Sejurus kemudian jam 6:30. Kopi sudah dingin. Aku ketiduran dan istriku sudah merampungkan cuciannya. Dia ga marah tapi aku yang sakit hati. Sayang sekali kopi tadi. Inilah kejahatan dan penistaan terhadap kopi yg aku sesali. 


Sore ini kubuatkan kopi ternikmat untuk istriku, meskipun dia hanya meminum sekali dan aku yang menghabiskan. 


Aku merasa bangga telah membuatkannya secangkir kopi. "Suami yang hebat..," gumamku...

Related Posts

0 comments:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung, Silahkan meninggalkan komentar :) | Nyepam pasti saya delete